Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

Mampukah Anaconda Menggigit?

Setiap jenis ular memiliki gigi, tetapi gigi yang dimiliki oleh Anaconda tidak berfungsi untuk menggigit atau mengunyah, tetapi sekedar untuk menahan tubuh mangsanya agar tidak mampu melarikan diri . Dan fungsi gigi pada Anaconda tidak untuk menyimpan bisa. Pada jenis ular tertentu bisa disimpan paa gigi khusus yang disebut Fangs, yang digunakan untuk membunuh mangsanya. Tetapi Anaconda tidak membutuhkan bis untuk mangsanya, tetapi hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya.

Ular Pembunuh

Anaconda seperti ular lainnya mampu membunuh mangsanya dengan melilitkan tubuhnya, meski manghsanya lebih besar dan lebih bertenaga hingga mati karena lemas, setelah buruannya mati barulah Anaconda tersebut menelan seluruh tubuh mangsanya

Anaconda lebih menyukai hewan air seperti ikan, buaya atau ular lainnya. Tetapi kadang pula Anaconda memangsa rusa atau bahkan jaguar. Anaconda termasuk hewan yang lambat bergerak, sehingga dia cenderung bersembunyi dan secara mendadak menyerang mangsanya yang lengah..

Ular Terbesar Sedunia

Jika seekr Anaconda mampu menelan satu ekor kambing sekaligus, tentu kita akan berpikir bahwa

Anaconda adalah tergolong ular raksasa. Tetapi baru baru ini ( Th 2008 lalu ) telah ditemukan fossil raksasa di tambang batubara di Colombia, Amerika Selatan. Para ahli Palaentologi ( Ilmu tentang hewan purba) berhasil memperkirakan panjang tubuh Anaconda tersebut adalah 43 kaki ( 14 meter ) dan beratnya 2.500 lbs atau 1250 kg.Berdasarkan penemuan tersebut para ahli menyimpulkan bahwa Ular Raksasa tersebut adalah Pemangsa buaya, atau Pemangsa Predator. Ukuran tubuh raksasa tersebut disebabkan suhu udara hutan Amazone ikut mendukungnya, yaitu sekitar 6 – 8 derajat di atas suhu tubuh Anaconda tersebut.

anaconda Suka Hidup Menyendiri

Sepanjang hidupnya Anaconda menggantungkan hidupnya di sungai untuk berburu.

Anaconda adalah hewan penyendiri (solitary ) dan pemalu, sehingga jarang bisa kita temukan di alam. Mereka termasuk hewan yang pintar bersembunyi dengan baik di rawa , untuk menanti mangsa yang lewat.

Beberapa waktu silam, teradap beberapa cerita yang dilaporkan oleh petualang dari Eropa yang melakukan perjalanan di Hutan Amerika Selatan. Mereka mengaku melihat Anaconda Raksasa yang

mencapai panjang 100 kaki ( 33 meter ). Demikian juga cerita dari penduduk asli Amerika Selatan, yang kerap melihat Anaconda yang mencapai panjang 50 kaki. Dan menurut sejarah hingga kini belum pernah ditemukan Anaconda yang panjang dan berat tubuhnya hampir sama dengan cerita tersebut.

Anaconda

Anaconda adalah sejenis ular yang berukuran raksasa dan tidak berbisa. Meski dalam Biologi diberi nama sama dengan golongan ular, namun Anaconda sebenarnya tidak segolongan dengan ular.

Sebagai contoh untuk Anaconda Hijau diberi nama Latin

Eunectes murinus. Anaconda Hijau adalah ular terbesar di dunia dan bisa mencapai ukuran panjang tubuh Ular Phyton Anaconda paling menyenangi lingkungan berair, contohnya di sungai-sungai Hutan Amazon. Meskipun mangsa yang diinginkan Anaconda adalah hewn ternak, namun Anaconda juga bisa menewaskan manusia. Meski kejadian sangat jarang .

Anaconda yang termasuk kelompok Eunectes, . adalah Anaconda yang berukuran besar, hidup di lingkungan berair dan banyak terdapat di Amerika Selatan. Contoh dari Anaconda yang termasuk kelompok ini, adalah :

§ Eunectes murinus ( Anaconda Hijau ), termasuk Anaconda Raksasa yang hidup di Pegunungan Andes di Negara Colombia, Venezuela, the Guianas, Ecuador, Peru, Bolivia, Brazil dan kepulauan Trinidad.

§ Sedangkan kelompok Eunectes notaeus ( Anaconda Kuning ), adalah jenis yang lebih kecil dan hidup di Bolivia, Brazil, Paraguay dan Argentina.

§ Kelompok Eunectes deschauenseei ( Anaconda Bercak Hitam pada kulitnya ). Adalah jenis Anaconda yang langka, namun sering kali ditemukan di Brasil dan Guyana.

Anaconda yang pernah ditemukan oleh manusia berukuran panjang 28 kaki ( ± 7 meter ) dan berdiameter 44 inchi. Meskipun saat penemuan tidak ditimbang berat Anaconda tersebut, namun para ahli berhasil menaksir beratnya, yaiutu sekitar lebih dari 500 lbs ( ± 2,5 kuintal ).

Sejarah Es Krim

Sebelum adanya sistem pendingin yang modern, es krim adalah makanan yang mewah dan hanya dihidangkan pada acara-acara yang spesial.


Dahulu, membuat es krim adalah hal yang sangat merepotkan. Untuk membuat es krim, Es didapatkan dari danau atau kolam yang membeku saat musim dingin, kemudian dipotong dan disimpan dalam tumpukan jerami, lubang di dalam tanah, atau tempat penyimpanan es yang terbuat dari kayu dan diberi jerami. Es disimpan untuk kemudian dipakai saat musim panas.


Saat musim panas. es krim kemudian dibuat secara tradisional dengan mengolah adonan didalam mangkuk besar yang ditaruh dalam sebuah tube yang diisi dengan campuran es yang telah dihancurkan dan garam, yang membuat adonan es krim itu membeku.

Sejarah Kertas

Kertas pertama kali diciptakan oleh bangsa Cina. Tsai Lun adalah orang yang menemukan kertas yang dibuat dari bahan bambu yang mudah didapatkan di Cina pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini kemudian menyebar ke Jepang dan Korea seiring dengan menyebarnya bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu, walaupun sebenarnya cara pembuatan kertas pada awalnya merupakan hal yang sangat dirahasiakan.

Teknik pembuatan kertas jatuh ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi. Para tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab, sehingga kemudian muncullah industri-industri kertas disana.

Teknik pembuatan kertas kemudian juga menyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan Spanyol dan ke seluruh dunia.

Sejarah Pensil

Penggunaan timbal dan grafit yang memberikan efek goresan abu-abu sudah dimulai sejak zaman Yunani.


Pada tahun 1564 ditemukan kandungan grafit murni dalam jumlah besar di Inggris bagian utara. Walaupun terlihat seperti batu bara, grafit tidak dapat terbakar, dan meninggalkan bekas berwarna hitam mengkilap serta mudah dihapus. Pada masa itu grafit masih disalahartikan dengan timah hitam dan plumbago. Karena itulah istilah lead pencil (pensil timah) masih digunakan sampai sekarang.


Karena berminyak, dahulu grafit dibungkus dengan kulit domba atau potongan kecil timah berbentuk tongkat dibungkus dengan tali.


Tidak diketahui dengan pasti siapa yang pada awalnya memasukkan grafit ke dalam wadah kayu sehingga berbentuk pensil yang kita kenal sekarang ini. Namun, pada tahun 1560-an, pensil dengan bentuk yang primitif sudah ada di benua Eropa.


Grafit kemudian diekspor untuk para seniman, dan pada abad ke 17 bisa dikatakan grafit telah digunakan dimana-mana.


Para pembuat pensil melakukan percobaan dengan grafit untuk menciptakan alat tulis yang lebih baik.

Karena grafit menjadi hal yang begitu berharga dan menjadi incaran pencuri, pada tahun 1752 Parlemen Inggris mengeluarkan undang-undang yang menetapkan bahwa pencuri grafit bisa dipenjarakan.


Pada tahun 1789 nama grafit yang berasal dari bahasa Yunani graphein resmi diberikan, sehingga menghilangkan kebingungan antara grafit dengan timah hitam.
Dalam pembuatan pensil modern, grafit murni digunakan dengan cara dicampur dengan tanah liat.

Kartu Ucapan Aneh

Shasa melangkah menuju kelasnya di lantai dua dengan bersemangat. Hari masih pagi. Murid-murid sekolah dasar TUNAS belum banyak yang datang. Mendekati ruang kelasnya, tangannya meraba kantong kecil di bagian samping tas sekolahnya. Bibirnya tersenyum saat merasakan tonjolan kecil. Kado buat Nia yang sudah ia siapkan. Hmmm.. kira-kira bagaimana reaksi Nia bila menerimanya kelak ya?


“Naah.. Tuh, Shasa datang!”

Shasa yang baru saja masuk ke dalam kelas tertegun. Nia, Rara dan Fira tengah menatap kearahnya dari tempat duduk Nia.

“Kesini, Sha!” Panggil Rara yang pertama kali melihat kedatangannya.

Shasa mendekat dengan heran setelah terlebih dahulu meletakkan tasnya. “Ada apa?” tanyanya.

“Ada kerjaan buat kamu,” kali ini Fira buka suara.

“Kerjaan?” Shasa jadi semakin bingung mendengarnya. Kenapa teman-temannya jadi membicarakan tentang pekerjaan? Memangnya kelas empat SD sudah boleh bekerja?

“Tadi pagi Nia mendapati kartu ini di laci mejanya,” Fira menjelaskan sambil menyodorkan sebuah kartu.

Shasa membolak-balikkan kartu itu. Sebuah kartu berukuran seperempat buku tulis. Sepertinya bukan kartu yang banyak dijual di toko-toko melainkan dibuat sendiri dari karton berwarna Ungu. Warna kesukaan Nia. Di depannya terdapat bunga-bunga kecil terbuat dari pita lengkap dengan daunnya yang dilekatkan dengan lem. Di bagian belakangnya terdapat gambar babi kecil yang lucu dengan ekornya yang melingkar.


“Wooii.. Jangan dibolak-balik saja. Baca dong tulisan di dalamnya,” kata Rara dengan gemas. Rupanya ia tidak dapat menahan diri untuk tidak berkomentar melihat Shasa sejak tadi hanya membolak-balikkan kartu yang dipegangnya.


“Loh.. bilang dong dari tadi kalau aku harus membaca bagian dalamnya,” Shasa cekikikan. Rara cemberut. Shasa membuka kartu yang sejak tadi dipegangnya. Di bagian dalam kartu itu terdapat tulisan. Hurufnya kecil-kecil dan rapih.


nuhat gnalu tamales

kitnac habmat

aynnaritkart uggnutid


Shasa mengernyitkan kening. Ini bahasa apa ya? Pikir Shasa bingung. Bukan bahasa Inggris, bukan pula bahasa daerah. Hmmm.. bahasa yang aneh..


“Gimana, Sha?” tanya Rara.

“Apanya yang bagaimana?” Shasa balik bertanya.

“Ya ampun, Shasaaa…,” Rara berseru gemas. Bibirnya cemberut. Shasa tak dapat menahan cekikikannya.

“Maksud Rara, kamu mengerti tidak yang tertulis di kartu itu?” Fira buru-buru menengahi.

“Nggak,” Shasa menjawab polos. Matanya menatap satu persatu teman-temannya dengan pandangan tak bersalah.

“Katanya hobi baca buku misteri. Katanya ingin jadi detektif. Buktikan dong,” Rara mencibirkan bibirnya.


Shasa hanya tersenyum-senyum mendengar kata-kata Rara. “Oh.. jadi aku diminta memecahkan misteri kartu ucapan aneh ini,” Shasa mengangguk-anggukan kepala.


“Capek deehh..” Rara meletakkan sebelah tangannya di dahi. Nia dan Fira cekikikan melihatnya.

“Bagaimana sih ceritanya sampai kamu menemukan kartu ini?” tanya Shasa ingin tahu. Ditatapnya Nia dengan serius. Tanpa menunda-nunda, Nia segera menceritakan kisahnya.


Kalau mendengar cerita Nia, kartu ucapan itu memang misterius. Ketika tiba di kelas dan hendak memasukkan tas berisi baju olahraga ke dalam laci, Nia menemukan kartu itu. Tidak ada nama pengirimnya. Hanya ada gambar babi kecil di bagian belakang amplop sama seperti yang ada dibagian belakang kartu.


Shasa memilin-milin rambutnya dengan jari tangannya. Kebiasaannya bila sedang berfikir. Hmmm.. benar-benar kartu ucapan yang misterius.

“Ketika aku tiba di kelas tadi pagi, baru Deden dan Oca yang sudah datang,” tambah Nia.


Shasa melemparkan pandangannya ke luar kelas. Dilihatnya kedua anak laki-laki yang namanya disebut oleh Nia sedang asyik bercengkerama di dekat pagar pembatas. Sepertinya tidak mungkin salah satu dari mereka yang menjadi pengirim kartu misterius. Keduanya bukan tipe yang peduli dengan ulang tahun teman mereka. Lagipula tulisan tangan mereka tidak mirip dengan tulisan yang ada di kartu.


“Nanti aku pikirkan deh, siapa tahu saat istirahat nanti aku mendapat wangsit. Lagipula sebentar lagi bel masuk akan segera berbunyi,” kata Shasa sambil melihat ke arah jam dinding yang ada di depan kelas. Mereka pun membubarkan diri dan menuju bangku masing-masing.


“Eh, kamu mau kemana?” tanya Rara ketika dilihatnya Shasa terburu-buru menuju pintu kelas saat bel istirahat berbunyi.

“Sebentar, aku mau ke ruang Tata Usaha dulu. Nanti aku segera kembali ke kelas,” Shasa menjawab sambil bergegas.


Aduh.. ramai sekali suasana saat istirahat. Shasa sampai harus berdesak-desakkan saat menuruni tangga. Selesai menyerahkan uang untuk membayar catering kepada petugas Tata Usaha, Shasa setengah berlari kembali menuju kelasnya. Mudah-mudahan nanti ia akan mendapatkan ide untuk memecahkan kata-kata misterius di kartu ucapan yang diterima Nia.

“Saking terburu-burunya, di ujung tangga Shasa nyaris bertabrakan dengan dua orang murid kelas tiga yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Kalau susu dibalik jadi apa, hayo?” salah seorang dari mereka bertanya

“Jadi usus,” jawab yang lainnya.

“Salah dong, yang benar itu susu dibalik jadi tumpah,” yang pertama bertanya menjelaskan.
Shasa tersenyum-senyum sendiri mendengarnya. Eh, nanti dulu.. apa tadi katanya? Dibalik?

Begitu tiba di kelas, Shasa segera mengambil kartu ucapan misterius yang sedang diperhatikan oleh Nia, Rara dan Fira. Dibawah tatapan heran teman-temannya, Shasa membaca kata-kata yang tertulis di kartu. Kalian penasaran bagaimana Shasa bisa membacanya? Coba deh dibalik. Naahh.. sudah bisa membacanya kan?


“Lantas siapa yang menulis kartu itu?” kejar Rara.

Belum juga Shasa menjawab, dari pintu kelas terdengar teriakan, “Niaaa.. Pulang sekolah traktir burger dong di kantin. Kamu ulang tahun kan hari ini?”

Seorang anak perempuan tersenyum lebar di pintu kelas. Rambutnya dikuncir dua. Ikat rambutnya berhiaskan boneka babi berwarna ungu. Tangannya membawa dompet kecil begambar babi dengan ekornya yang melingkar.


“Itu dia yang menulis kartu ucapan dengan gambar babi kecil,” Shasa menunjuk ke arah Ghina, sepupu Nia yang masih tersenyum.

Nia menepuk dahinya. “Kok aku tidak terfikir ke arah sana ya?” sesalnya. “Seharusnya aku ingat kalau Ghina itu mengoleksi pernak-pernik bergambar babi.”


“Hebat.. Shasa bisa memecahkan misteri kartu ucapan yang aneh,” puji Fira.

“Shasa gitu loh,” Shasa menjawab sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“Huuu.. Narsis..!” ketiga temannya berseru serempak. Shasa tertawa-tawa. Diambilnya kado kecil yang sudah disiapkannya untuk Nia.

“Met ultah ya,” ucapnya sambil menyerahkan kado ke tangan Nia.

Buat kalian yang masih kesulitan membaca ucapan yang ada di kartu, yuk kita baca dari belakang ke depan.


selamat ulang tahun

tambah cantik

tambah pintar

ditunggu traktirannya

Perawat Dadakan

Shasa duduk bersila di ujung tempat tidurnya. Wajahnya terlihat serius. Tangan kanannya bergerak-gerak diatas selembar kertas putih yang ada di atas alas kayu. Tak lama kemudian tangannya berhenti bergerak. Dipandanginya wajah yang tergambar di kertas.

“Kok tidak mirip dengan mama, ya?” gumamnya. Diambilnya karet penghapus kemudian dihapusnya beberapa bagian dari gambar itu. Pinsil di tangannya kembali bergerak-gerak berusaha menyempurnakan gambarnya.

“Hoeekk.. Hoeekk..”

Shasa mengangkat kepalanya. Suara apa itu?

“Hoeekk.. Hoeekk..”

Suara itu kembali terdengar. Sepertinya itu suara orang sedang muntah. Arahnya dari kamar mandi yang letaknya bersebelahan dengan kamar Shasa. Disingkirkannya kertas dihadapannya. Bergegas Shasa keluar dari kamar. Sore ini hanya ada mama dan dirinya di rumah. Papa belum pulang dari kantor. Berarti yang sedang muntah-muntah di kamar mandi itu.. Mama!

“Maaa..” Shasa mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada jawaban. Dengan cemas, Shasa mengulangi ketukannya dengan lebih keras

“Mamaaaa…” tanpa sadar Shasa setengah menjerit. Rasa takut melanda hatinya. Aduhh.. kenapa mama tidak menjawab panggilannya? Diputarnya pegangan pintu kamar mandi. Terkunci! Aduhh.. Bagaimana ini? Bagaimana kalau mama pingsan?

“Mamaaaa..” Kali ini Shasa benar-benar menjerit. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Shasa benar-benar ketakutan. Digedor-gedornya pintu kamar mandi. Airmatanya sudah hampir menetes ketika pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka. Mama berdiri disana dengan wajah pucat dan basah.

“M..a.. Ma.. Mama kenapa?” Shasa bertanya terbata-bata. Mama tidak menjawab, hanya memegangi perutnya. “Maag mama kambuh ya?” tanya Shasa lagi teringat kalau mamanya punya penyakit maag. Kadang-kadang kalau penyakit maag mama kambuh, mama suka muntah-muntah.

Mama melangkah keluar dari kamar mandi. Shasa meraih tangan mama. Duuhh… tangan mama kok dingin sekali? Dituntunnya mama ke kamar.

“Mama pusing ya?” tanyanya. Mama menganggukkan kepalanya kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Dengan sigap Shasa menarik selimut yang ada di ujung tempat tidur mama. Diselimutinya tubuh mama kemudian Shasa tertegun. Setelah diselimuti kemudian harus bagaimana?

Otaknya berputar cepat. Oiyaaa.. Minyak kayu putih dan obat maag! Shasa melompat dari tempat tidur mama. Setengah berlari ia menuju tempat obat. Dibawanya minyak kayu putih dan obat maag ke kamar mama. Tak lupa segelas air hangat.

“Ma, minum obat maag dulu ya?” katanya. Dilihatnya mama membuka matanya.

“Nanti saja,” jawab mama lemah.

Bagaimana mama ini. Kalau Shasa sakit, Shasa harus minum obat tapi kalau mama yang sakit kenapa minum obatnya nanti saja? tanya Shasa dalam hati.

“Kalau begitu, perutnya dibalurin minyak kayu putih saja, ya, Ma?” Kata Shasa menirukan gaya mama kalau sedang membujuk dirinya.

“Nanti saja,” jawab mama lagi.

Uhhh.. Minum obat, nanti saja, minyak kayu putih, nanti saja, bagaimana sih mama ini? Gerutu Shasa. Tentu saja Shasa cuma berani menggerutu dalam hati.

“Lehernya saja yang dibalurkan minyak kayu putih. Mau ya, Ma?” Shasa masih berusaha membujuk.

Untungnya kali ini mama menganggukkan kepalanya. Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, Shasa membalurkan minyak kayu putih ke leher mama.

“Mama mau minum teh hangat?” tawarnya.

Mama membuka matanya dan menatap Shasa heran. “Memangnya Shasa bisa membuatkan teh?”

“Bisa dong,” jawab Shasa cepat. Masa’ membuat teh manis hangat saja tidak bisa sih, kata Shasa dalam hati.

Bergegas Shasa menuju dapur. Sesampainya di dapur, langkahnya terhenti. Mama menyimpan teh dan gula di lemari yang ada di bagian atas. Bagaimana Shasa bisa membuka lemari yang tinggi itu?

Shasa menjentikkan jarinya. Ditariknya kursi dari ruang makan. Dengan hati-hati, Shasa naik ke atas kursi. Diturunkannya kotak teh dan toples tempat menyimpan gula. Diambilnya cangkir lengkap dengan piring alasnya. Dengan hati-hati, Shasa menekan tombol dispenser. Lohh.. kok air panasnya tidak bisa keluar?

Shasa memperhatikan tombol dispenser itu. Ooo.. baru Shasa ingat kalau tombol air panas itu ada kuncinya. Jadi kuncinya harus dibuka dulu baru air panasnya bisa keluar. Nahh.. sekarang sudah beres. Setelah itu, dituangkannya satu sendok kecil gula. Dengan hati-hati diaduknya teh hangat buatannya dan dibawanya ke kamar.

“Ini, Ma, tehnya diminum dulu,” kata Shasa.

Dilihatnya mama menatap tidak percaya ke cangkir yang dibawa Shasa.

“Aduhh.. anak mama pintar sekali,” puji mama. Shasa tersenyum bangga. Shasa gitu loh, katanya dalam hati.

Mama menyeruput tehnya. Kelihatan nikmat sekali. “Enak loh, teh buatan Shasa,” puji mama lagi.

Pintu kamar terbuka. Papa berdiri disana. Heran melihat mama yang sedang minum teh hangat di tempat tidur, gelas berisi air, minyak kayu putih dan obat maag yang ada di meja kecil disisi tempat tidur.

“Ada apa ini?” tanya papa.

“Mama sakit, Pa,” lapor Shasa. Diceritakannya kejadian tadi. Mama melengkapi ceritanya sambil tersenyum simpul.

“Hebat dong anak papa,” puji papa setelah Shasa selesai bercerita. “Sudah bisa merawat mama.”

“Kita bawa mama ke dokter saja yuk, Pa,” usul Shasa. “Nanti kan bisa dikasih obat sama dokter.”

“Mama bukan sedang sakit maag kok,” papa menenangkan sambil tersenyum.

“Lohh.. kok tadi muntah-muntah?” tanya Shasa heran.

“Mama muntah-muntah bukan karena sakit maag tapi karena sebentar lagi Shasa akan punya adik.”

Kedua mata Shasa terbelalak. “HAH?! Punya adik?! Maksud papa.. mama sedang.. hamil?”

Papa tersenyum lebar. Diciumnya pipi Shasa. “Iya, di perut mama ada adik Shasa.”

Shasa hanya bisa menatap papa sambil bengong. Punya adik?!

Perjalanan Antar Waktu

BRAKKK !

Benturan yang keras membuatku pingsan. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri. Sepasang tangan yang kuat dan kasar membangunkanku.

“ Hai, bangun gembel! Jangan tidur disini! “
Aku kaget. Ketika kubuka mataku, di depanku kulihat seorang laki-laki kekar dengan wajah beringas.

“ Bapak si…sia…pa ?”tanyaku terbata-bata. Aku ketakutan.
“ Ha…ha…ha! Jangan berlagak pilon.Pura-pura bodoh! Bukankah aku bosmu? “
‘” Bos apa? Saya sama sekali tidak mengerti.”
“ Dasar bego! Cepat berikan seluruh hasil mengemismu hari ini?!”

Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud bapak tadi. Mengemis? Aku pengemis? Tidak mungkin. Ayahku pengusaha terkaya di kotaku.

“Ayo,cepat! Kalau kamu tidak menyerahkan penghasilanmu hari ini, aku akan mengurungmu di ruang bawah tanah.”

Dengan menggigil ketakutan ,kukorek-korek seluruh isi saku celanaku.
Heran! Biasanya banyak uang di dalam sakuku. Namun, kali ini seratus rupiahpun tidak kutemukan. Aku kebingungan.

“Maaf, Pak! Aku tidak membawa uang. Tapi, kalau Bapak ingin meminta uang mintalah pada Ayahku. Beliau pengusaha kaya di kota ini. Tapi, tolong bebaskan saya!”
“Ha..ha…ha ! “ laki –laki itu tertawa semakin keras.
“Jangan membodohi aku. Pengemis seperti kamu tidak mungin berasal dari keluarga yang kaya . Bohong! “laki-laki itu terus saja marah –marah. Dengan tubuhnya yang kekar ia menyeretku.


Sampailah aku di ruang bawah tanah. Gelap, pengap dan lembab. Rasanya aku tidak asing dengan ruangan ini. Aku ingat sekarang! Bukankah ini gudang tempat aku biasa berkumpul dengan gengku? Mana Odi? Mana Theo? Ian?Aku ingat tadi siang aku bermain dengan mereka.

Ya, ya aku ingat! Aku tadi merencanakan ide hebat bersama teman-temanku. Kami sepakat akan menggasak rambutan yang ada di pohon Pak Sukri. Kami juga berencana akan mengempesi sepeda Pak Guru. Tapi mengapa aku sendirian? Mana yang lain?

Sepi rasanya tanpa kehadiran sahabat-sahabatku. Kami adalah tim yang kompak. Di sekolah kami ditakuti teman-teman. Mereka tidak berani menegur kami bila kami berbuat iseng kepada mereka. Kami adalah jagoan. Bagi kami, dihukum karena tidak membuat PR hal yang biasa. Dimarahi Pak guru? Cuek aja. Nilai ulangan jelek? Tidak masalah.Toh, orang tua kami kaya. Buat apa bersusah payah sekolah?

Aku heran dengan keadaan ini. Ketika aku sedang bingung, tanpa sengaja kulihat sebuah cermin tergantung di tembok. Perlahan kudekati. Aku ingin melihat luka bekas tamparan di wajahku.

“ Ahhhhh! “Aku menjerit sekuat-kuatnya. Wajah siapakah yang ada di cermin tadi? Dekil, kumal , kotor dan beringas.

Sekali lagi kupandang cermin itu. Yang kulihat wajah yang sama. Dengan perasaan takut kuamati wajah dalam cermin. Seperti wajahku tetapi lebih tua. Mungkin berumur 30 tahun. Kuusap daguku, bayangan dalam cerminpun melakukan hal yang sama. Kuusap rambutku, kuucek mataku. Ya,Tuhan! Itu aku! Bagaimana mungkin aku setua itu? Umurku baru 10 tahun. Aku tadi pagi masih sekolah. Siang hari aku bermain dengan teman-temanku. Apa yang terjadi?

Aku mulai panik. Aku berteriak. Pintu kugedor-gedor.

“Tolong! Tolong! Bukakan pintu!! “ Brak! Brak! Brak! Dengan sekuat tenaga kugedor-gedor pintu. Tidak ada orang yang mendengarku. Tanganku sampai memerah. Aku lelah. Aku menangis. Putus asa.

Tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Seorang laki-laki berwajah bersih menghampiriku.

“ Kamu siapa? “ tanyaku sambil mengingat, sepertinya aku kenal dia.
“ Rino, apakah kamu tidak mengenalku? “ katanya sambil menyodorkan minuman.
“Aku Dio.”

Dio. Aku ingat sekarang. Dialah yang paling sering menjadi korban keisenganku.

“ Dio, aku malu. Aku jahat kepadamu tetapi engkau baik kepadaku.”
“ Rino, kita sekarang sudah dewasa. Bukan kanak-kanak lagi. Umur ku sekarang 35 tahun “
“ Tidak mungkin. Kemarin aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke sepuluh. Kamu bohong! “
“ Tidak ,Rino! Itu sudah dua puluh lima tahun yang lalu. “

Aku menggelengkan kepala. Benar-benar pusing. Kemudian Dio mengajakku ke luar dan mendudukkan aku di kursi.

“ Lihat kalender itu! “ Dio menunjukkan kepadaku sebuah kalender dan membuat aku terlonjak! Tahun 2034. Bagaimana mungkin aku bisa melompati waku 25 tahun. Tadi siang tahun 2009 dan sekarang 2034 ?

Kemudian Dio memberiku surat kabar. Ya, tahun 2034! Televisi yang menyiarkan berita pun menyatakan hal yang sama.

“ Dio, bisakah kau menceritakan hal yang terjadi?”
“ Ya, kamu terlempar ke masa depan. Inilah hidupmu. Lihat keadaanmu! “
“Aku jadi pengemis, padahal orang tuaku sangat kaya. Dimana mereka? Bagaimana nasib ayah dan ibuku? “
“ Orang tuamu masih hidup. Mereka jatuh miskin dan sakit-sakitan.”
“Mengapa? “
“Bacalah kisah ini!”

Kubaca majalah yang disodorkan Dio. Di majalah itu dikisahkan riwayat seorang pengusaha kaya yang jatuh miskin karena ulah anaknya. Rupanya ketika berusia 25 tahun aku diminta ayahku untuk memimpin perusahaan. Ayahku sudah tua, ibu sakit-sakitan. Aku anak tunggal. Aku tumpuan hidup satu-satunya.

Dengan setengah hati aku menerima tugas dari ayahku. Namun karena aku bodoh perusahaan yang kupimpin bangkrut. Aku malas bekerja. Hidupku hanya untuk berfoya-foya. Kemudian ayahku jatuh miskin.

Aku menyesal dan malu. Aku lari dari rumah. Karena tidak memiliki kepandaian dan ketrampilan akhirnya tidak ada orang yang menerimaku bekerja. Akhirnya aku menjadi pengemis.

Inikah hidupku? Tidak! Aku tidak mau seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Aku tahu. Aku harus kembali ke tahun 2009. Aku harus merubah hidupku.

Aku ingat sesuatu! Aku segera lari ke gudang bawah tanah. Cermin! Ya,aku harus ke cermin. Cermin itulah yang menyedotku ketika aku di gudang tadi siang. Cermin itu yang melontarkanku ke tahun 2034. Bersyukurlah aku cermin itu masih ada.

Segera kudekati. Kedua telapak tanganku kuletakkan di atasnya. Aku berdoa kepada Tuhan .Mohon ampun atas kenakalan yang kulakukan. Aku juga berjanji akan memperbaiki hidupku. Aku akan rajin belajar dan patuh pada nasehat orang tuaku. Aku juga akan menjadi anak yang baik.


Selesai aku berdoa, aku merasakan kekuatan yang dasyat menarikku. Memutar-mutar tubuhku, melewati lorong yang sangat panjang. Dan..Brak! Aku terlontar dan jatuh di belakang rumahku.

“ Rino,kamu kemana saja? Dari tadi aku mencarimu! “ Odi menanyaiku.
“Tidur di gudang “ kataku . Aku senang telah kembali ke masa kanak-kanakku.

Aku segera berlari .” Rino, tunggu, mau kemana?”

“ Ke rumah Dio. Aku mau berterimakasih kepadanya.”
“ Buat apa menemui anak bloon itu? “
“ Ceritanya panjang kamu pasti tidak percaya.”

Odi terus mengejarku,” Rencana kita jadi kan malam ini? Itu pesta rambutan dari pohon Pak Sukri?”

“ Batal!”
“ Nggembosin sepeda Pak Udin?’
“ Batal! “

Aku terus berlari. Aku mengejar waktu. Banyak hal yang harus kulakukan hari ini. Yang pasti mulai sekarang tidak akan kusia-siakan hidupku. Hidup dan waktuku adalah untuk belajar, berbuat baik dan menyengangkan orang tuaku dengan prestasi dan perbuatanku. Mampukah aku? Doakan aku ya, teman-teman!

Si Jago Marah

Ibu memiliki dua belas ekor ayam betina dan satu ekor ayam jantan yang tubuhnya cukup besar dan biasa dipanggil Si Jago. Semua ayam ibu tadi dibuatkan kandang di belakang rumah, sehingga kalau malam mereka tidak tidur di sembarang tempat.

Pagi – pagi benar sebelum Ibu memasak untuk sarapan, semua ayamnya diberi makanan berupa nasi dan sayur sisa. Meskipun makanan itu semuanya sisa tadi malam, namun ayam –ayam tadi mau makan dengan lahapnya. Maka tidak mengherankan, bila semua ayamnya Ibu gemuk dan sehat.

Beberapa ayam betina sekarang sudah mulai bertelur, sementara ayam betina lainnya sudah mulai mengerami telurnya. Perasaan Ibupun menjadi senang melihat ayam piaraanya bertelur dan mengerami. Setiap hari tak lupa Si Jago selalu menjaga mereka, sehingga telur – telur yang ada di kandang tidak di makan tikus.

Namun Si Jago akan membiarkan saja bila Ibu mengambil salah satu telur mereka untuk digoreng. Tetapi bila ada hewan lain yang mendekati kandang-kandang ayam betina Si Jago pun akan marah dan segera menerjang dan mematuknya. Ibupun sangat sayang dengan ulah Si Jago ini.

Berbeda jauh dengan Amran yang sama sekali tidak suka dengan ayam-ayam ini. Jangankan memberi makan, dekat dengan ayam –ayam ini saja dia tidak mau, bahkan dia sering mengejar ayam ayam itu dan kadang kadang melempar dengan benda apa saja. Makanya semua ayamnya Ibu sangat ketakutan bila dekat dengan Amran.

Suatu hari saat Amran jalan kaki bersama teman – temannya pulang dari sekolah, dia bertemu dengan Ibu Siti pemilik warung makan, yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya.

” Amran, coba kamu tanya ibumu, berapa harga telur ayam kampung. Bu Siti tiap hari butuh untuk dimasak. Nanti coba tanyakan, ya ” pinta Bu Siti.

” Ya Bu, nanti segera aku tanyakan sama Ibu , Bu Siti butuh telur berapa ? ” jawab Amran.


” Sebanyak – banyaknya, nanti aku tunggu kamu di warung , ya ! ”

” Ya, bu ! “.

Menjumpai tawaran Bu Siti tadi, timbulah niat jahat Amran untuk mencuri telur – telur ayam milik Ibunya. Niat Amran bertambah kuat, setelah rencana jahatnya itu didukung oleh teman karibnya, yaitu Leo dan Joko. Maka tanpa pikir panjangpun Amran segera membulatkan tekadnya. Bahkan kini dia telah punya rencana, setelah makan siang nanti dia akan berpura-pura belajar mengerjakan soal – soal di LKS.

Amran tahu betul setiap selesai dia makan siang, Ibunya langsung pergi tidur siang dan kadang kadang dia diajak Ibunya untuk bareng tidur siang. Namun kali ini dia beralasan tidak menemani tidur siang Ibunya, karena banyak PR di LKS, yang harus dia dikerjakan. Sementara itu sejak dia makan siang tadi, hingga kini beberapa kali sempat dia dengar kokok ayam betina pertanda baru saja mereka bertelur.

Hati Amran bergembira tiada terkira, setelah dia mendapatkan 5 telur yang masih baru. Maka kini tanpa menunggu waktu lagi, dia bergegas menyerahkan telur itu pada Ibu Siti dan Amranpun menerima uang dari Ibu Siti sebesar lima ribu rupiah dan kini dia pun bergabung dengan Leo dan Joko untuk main play – station di ruko depan sekolah mereka.

Demikian seterusnya hari demi hari ulah Amran tiada pernah berhenti, sampai suatu hari Ibunya kaget bukan kepalang. Lantaran telur ayam – ayamnya diluar dugaan sekarang berkurang banyak. Maka dia pun segera mengadu ke Bapaknya Amran tentang hilangnya telur – telur yang harusnya dierami oleh ayam mereka. Bapaknya Amranpun segera meneliti hilangnya telur – telur tersebut.

” Ini mungkin dimakan tikus apa kucing, Bu ? ” jawab Bapaknya Amran setelah meneliti kandang ayam mereka.

” Tapi Si Jago kok diam Pak, biasanya kalau ada tikus. Si Jago langsung berkokok ”

” Mungkin sudah, tapi Ibu yang nggak dengar ”

” Ya sudah, makanya kalau siang hari jangan sering tidur. Nanti di atas kandang Bapak pasang lampu. Sehingga kalau malam tikus tidak berani menyerang dan untuk kandangnya biar Bapak lapisi dengan anyaman kawat ”


Hari itu seharian Bapaknya Amran sibuk memperbaiki kandang ayam mereka sekaligus memasang lampu penerangan. Kegiatan ini sudah barang tentu membuat hati Amran dan kedua temanya bersedih. Lantaran ketiganya hari ini tidak bisa bermain play – station.

Barangkali hanya perasaan ayam – ayam tersebut dan Si Jago tentunya yang merasa marah dengan ulah Amran. Hanya saja mereka tidak mampu mengadukan kepada kita semua, barangkali saja rasa marah dari ayam – ayam itu sudah memuncak, lantaran telur mereka sering di ambil Amran. Merekapun akan membuat perhitungan bila ulah si Amran dilakukan lagi.

Benar saja ternyata rencana mereka tidak hanya omong kosong belaka. Kala Amran sudah mengantongi 5 buah telur di saku bajunya, semua ayam betina kontan bersamaan berkokok sekeras – kerasnya. Hal ini tentu saja membuat Amran kaget bukan kepalang. Ditambah lagi tanpa diduga sebelumnya Si Jago langsung ,menerjang dia dengan cara melompat ke arah muka Amran sambil mencakar wajahnya.

Serangan Si Jago ini akhirnya membuat Amran terjatuh karena kehilangan keseimbangannya dan mengakibatkan telur – telur yang ada di kantongnya pecah membasahi bajunya. Sudah barang tentu kegaduhan ini membuat Ibunya Amran terbangun dari tidur siangnya dan menjadi kaget melihat Amran menangis dan berdarah di pipinya. Perasaan Ibunya menjadi bertambah kaget ketika melihat bajunya Amran dibasahi telur yang pecah.

” Oh jadi kamu Amran !, yang mengambil telur. Perbuatanmu itu tidak baik, Anakku ! ” Seru Ibunya sambil menarik telinga Amran

” Ampun Bu, betul Bu, Amran yang ambil ”

” Baik, nanti Ibu adukan perbuatanmu pada Bapakmu, biar nanti Bapak yang menghukum kamu ” ancaman Ibunya itu membuat Amran takut setengah mati.

” Jangan Bu, Amran kapok, betul Bu ”

” Kalau kamu takut sama Bapak kamu, Ibu ingin kamu berjanji di depan Ibu tidak akan mengulangi perbuatanmu ! ”

Amranpun berjanji di depan Ibunya tidak akan berbuat jahat lagi.

Alarm Berbisik

Shasa masih berbaring di tempat tidurnya sambil menatap kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Mama baru saja keluar kamarnya setelah membangunkan dirinya. Tiba-tiba mata Shasa terbelalak. Hah?! Empat hari lagi mama ulang tahun! Aduuhh.. kok ia bisa lupa ya? Duh.. Shasa ingin memberi kejutan yang berkesan buat mama tapi apa ya? Sebuah ide melintas. Nanti sepulang sekolah ia akan menelepon papa di kantornya. Siapa tahu papa akan dapat memberinya ide. Tapi.. jangan sampai mama mendengar pembicaraan mereka. Itu artinya Shasa harus menunggu situasinya aman sebelum ia menelepon papa. Cepat-cepat Shasa bangkit dari tidurnya. Kalau ia berlama-lama, bisa-bisa waktu subuh sudah berlalu. Dari arah dapur tercium aroma nasi goreng yang menggugah selera. Hmmm.. sedaapp!

Hari itu kebetulan tidak ada jadwal kursus. Sepulang sekolah Shasa bisa sedikit bersantai sambil memerhatikan situasi. Ia harus memastikan mama tidak mendengar percakapannya dengan papa.

Tak lama kemudian dilihatnya mama masuk ke kamar mandi. Sreekk.. Sreekk.. rupanya mama sedang menyikat kamar mandi. Kesempatan yang dinantinya sudah tiba! Shasa langsung melompat dari tempat tidurnya. Dihubunginya papa yang sedang berada di kantor. Untung papa sedang tidak sibuk. Diceritakannya kepada papa perihal ulang tahun mama.

“Bagaimana kalau papa memasak buat mama?” tanya Shasa.

“Memasak?! Wah.. Papa kan tidak bisa memasak, Sha,” kata papa.

“Kalau begitu jalan-jalan ke luar kota saja,” usul Shasa.

“Lohh.. nanti Shasa bagaimana? Shasa mau di rumah sendirian? Hari ulang tahun mama kan bukan hari Sabtu atau Minggu,” kata papa.

Shasa menepuk dahinya. Benar juga yang dikatakan papa.

“Pesan bunga saja, Pa,” Shasa mengemukakan usul lain.

“Wah.. seperti di sinetron saja,” komentar papa.

Shasa tertawa mendengarnya. “Ya sudah kalau begitu papa belikan mama kado saja. Nanti di kartunya ditulis dari Shasa dan papa,” kata Shasa.

“Terus kadonya apa?” tanya papa.

“Apa ya, Pa?” Shasa balik bertanya.

“Bagaimana kalau nanti Papa sudah sampai rumah kita lanjutkan diskusi kita?” Papa mengajukan usul. “Sekarang Papa harus menyiapkan bahan untuk rapat dengan klien,” kata papa.

“Nanti mama bisa tahu rencana kita dong, Pa,” kata Shasa.

“Kita kan bisa curi-curi kesempatan,” papa menenangkan Shasa.

Shasa terkikik mendengarnya. Duhh.. ada-ada saja papa ini. Curi-curi kesempatan? Kok seperti judul sinetron saja.

Malam harinya, setelah melalui perdebatan seru antara Shasa dan papa, tercapai juga kata sepakat kejutan apa yang akan diberikan untuk mama yang akan berulang tahun. Papa dan Shasa akan menyiapkan sarapan untuk mama. Menunya Roti Bakar yang dalamnya ditaburi meises dan susu kental. Bagian luarnya diberi parutan keju dan ditambahkan susu kental. Minumnya teh hijau kesukaan mama. Hmmm.. Membayangkannya saja sudah membuat air liur Shasa menetes.

Untuk memuluskan rencana mereka, Shasa sengaja merayu mama menemaninya tidur.

“Biasanya Shasa tidur sendiri di kamar Shasa. Kenapa malam ini minta ditemani?” mama mengerutkan keningnya.

“Shasa kangen ingin ditemani mama. Sekali ini saja deh, Ma, ya..ya..ya..” Shasa mengeluarkan jurus rayuannya.

“Sekali ini saja loh, Sha,” mama menegaskan.

Shasa melonjak dan memeluk mama. Hmmm.. Besok mama pasti senang ketika bangun pagi sarapannya sudah tersedia.

Keesokan paginya sebuah tepukan dan ciuman membangunkan Shasa.

“Ayo bangun sayang.. Nanti kesiangan loh..” sebuah suara lembut terdengar.

Shasa membuka matanya. Dilihatnya mama sedang tersenyum memandangnya. Shasa mengucek-ngucek matanya. Direntangkannya tangannya dan diputarnya badannya ke kiri dan ke kanan. Sesuatu tiba-tiba menyentakkannya. Mengapa mama yang membangunkannya? Bukankah seharusnya papa yang membangunkan dirinya dan bersama-sama mereka akan mengucapkan selamat ulang tahun untuk mama?

Setelah mama keluar dari kamarnya, Shasa berlari menuju kamar orangtuanya. Dibukanya pintu kamar dan dilihatnya papa masih berbaring di tempat tidur. Shasa menarik selimut yang menutupi papa. Ditepuk-tepuknya pipi papa.

“Pa.. Papa.. bangun dong.. Rencana kita gagal nih, Pa,” Shasa menarik selimut yang menyelimuti papa. Dilihatnya mata papa mulai bergerak-gerak.

“Aduh papa.. sarapannya bagaimana?” Shasa menggoyang-goyangkan tubuh papanya.

Papa terduduk dengan terkejut.

“Lohh.. kenapa alarmnya tidak berbunyi ya, Sha?” tanya papa bingung. Mereka berpandangan. Sama-sama tidak tahu harus bagaimana.

Mama muncul di pintu kamar dan memandang mereka berdua dengan heran.

“Kalian bukannya Sholat Subuh kok malah bengong di tempat tidur?” tanya mama.

Papa dan Shasa berpandangan.

“Semalam Papa menyalakan alarm tapi kenapa tidak berbunyi ya?” tanya Papa bingung.

“Oohh.. Alarmnya berbunyi tapi berhubung mama lihat papa tidak terbangun ya mama matikan. Lagipula Mama lihat baru pukul setengah lima pagi.” kata mama.

“Memangnya ada apa sih?” tanya mama sedikit bingung.

“Rencananya papa mau bangun pagi dan menyiapkan sarapan buat mama. Hari ini mama kan berulang tahun. Tapi ternyata papa malah bangun kesiangan,” kata Shasa sambil memandang sebal ke arah papa.

“Habis alarmnya bunyinya berbisik sih jadi tidak terdengar oleh Papa,” kilah Papa. Mama tertawa kecil mendengarnya. Ada-ada saja Papa ini masa’ alarm bisa berbisik.

“Selamat Ulang Tahun, Ma,” Papa berkata sambil menghampiri mama dan mencium pipi mama.

Shasa tidak mau kalah. Diciumnya kedua pipi mama.

“Terima kasih Papa. Terima kasih Shasa sayang. Buat Mama, kalian ingat ulang tahun Mama sudah merupakan kejutan yang indah,” kata mama sambil memeluk Shasa.

“Sekarang lekas Sholat Subuh. Setelah itu Shasa mandi dan sarapan,” perintah mama.

Sebelum mengambil air wudhu, Shasa sempat melihat menu sarapannya. Roti bakar meises dengan parutan keju dan susu kental. Uhmm.. Mantap!!

“Gara-gara alarm berbisik, Shasa gak jadi deh menikmati roti bakar buatan Papa,” komentar Shasa membuat mama tertawa lepas sementara papa tersipu malu.

Parfum Hantu

Dilarang melakukan kegiatan mistis
dalam bentuk apapun
di sekitar bangunan ini

Shasa membaca barisan kalimat di papan pengumuman itu dengan seksama. Masih pukul sembilan pagi namun tak urung kalimat itu membuat Shasa bergidik. Ia menggamit lengan mama yang berdiri di sampingnya.

“Memangnya di sini suka ada yang praktek dukun ya, Ma?”

Mama mengernyitkan kening. “Praktek dukun apa?”

Shasa menunjuk ke arah pengumuman yang terpasang di halaman bangunan Lawang Sewu.

“Wah, Mama tidak tahu, Sha. Nanti kita tanyakan kepada pemandu-nya ya.”

“Memangnya kita akan masuk ke dalam gedung seram ini?” tanya Shasa memastikan.

“Ya iyalah,” mama menggerak-gerakkan bola matanya menirukan gaya bicara Shasa. “Sudah jauh-jauh ke Semarang, masa’ hanya berdiri di halaman Lawang Sewu saja sih.”

Shasa memandang gedung besar yang menjulang di hadapannya dengan perasaan seram. Liburan kali ini, papa, mama dan Shasa jalan-jalan ke Semarang. Hari ini mereka akan ke Lawang Sewu.

Shasa mengikuti langkah mama dan papa dengan tetap berpegangan pada lengan mama. Di dalam gedung, Shasa mengendus-ngenduskan hidungnya.

“Kenapa?” mama bertanya heran

“Katanya kalau di suatu tempat tercium bau kentang rebus artinya ada hantunya, Ma.” Shasa menjelaskan.

Mama menjawil hidung Shasa dengan gemas. “Ada-ada saja kamu ini. Hantunya gak gaul tuh. Masa’ pakai parfumnya aroma kentang rebus sih?”

Shasa cemberut. Uhh.. mama ini! Diajak serius malah bercanda.

Seorang pemandu menemani mereka sambil menjelaskan sejarah Lawang Sewu. Lawang artinya pintu. Sewu artinya seribu. Jadi Lawang Sewu artinya pintu seribu. Dinamakan demikian karena jumlahnya pintunya banyak sekali. Luas lahannya saja kurang lebih dua hektar. Wuih…

“Foto di sini, Dik, bagus loh!” pemandu wisata itu menunjuk ke arah ujung tangga. Kaca jendela di bagian itu adalah kaca patri yang bergambar seperti lukisan.

“Nanti waktu mencetak fotonya, dilihat lagi dengan seksama ya, Pak. Siapa tahu ada penampakan.” Papa yang bersiap mengabadikan dengan kamera hanya tersenyum kecil.

Shasa merapatkan tubuhnya ke tubuh mama. Duh.. kok malah semakin seram begini sih, keluh Shasa lagi. Sebenarnya Shasa bukan anak penakut tapi berada di dalam gedung besar yang dibangun pada jaman penjajahan Belanda ini benar-benar membuat nyali Shasa menciut. Apalagi gedung ini sudah lama kosong. Di beberapa tempat langit-langitnya tampak berlumut terkena air hujan yang masuk lewat atap yang bocor. Genangan air hujan tampak menggenang di beberapa sudut ruangan. Belum lagi lorong-lorong yang memanjang terasa hening dan mencekam.

“Tempat ini beberapa kali dipakai untuk shooting film loh.”

Shasa mengernyitkan kening mendengar kata-kata pemandu wisata itu. Lebih tepat rasanya kalau gedung ini dijadikan tempat uji nyali, Shasa berkata dalam hati.

“Sudah, yuk, Ma. Kita keluar saja.” Shasa berbisik sambil menggamit lengan mama.

“Loh, kita kan belum menjelajah ke semua bagian gedung ini.” protes mama.

“Kenapa, Dik? Takut ya?”

Shasa langsung cemberut mendengar kata-kata pemandu wisata itu. Uhh.. kok dia bisa dengar kata-kataku sih, gerutu Shasa. Masih sambil cemberut diikutinya pemandu wisata yang kini menaiki tangga batu menuju ruang yang ada di bawah atap. Dulunya ruangan yang berada di langit-langit ini dimanfaatkan sebagai gudang.

Aroma aneh langsung tercium begitu mereka melangkah ke dalam ruangan itu.
“Ma, ini bau apa?” Shasa bertanya setengah berbisik. “Jangan-jangan ini bau hantu, Ma.”
“Tapi ini kan bukan bau kentang rebus.” Mama membantah. Teringat apa yang dikatakan Shasa tentang bau kentang rebus dan keberadaan hantu.

“Mari kesini, disitu baunya tidak enak.” ajak pemandu wisata yang sedari tadi menemani mama, papa dan Shasa berkeliling Lawang Sewu.
“Ini bau apa sih, Mas?” tanya mama.
“Oh, itu bau parfum, Bu,” jawabnya.
“Parfum apa?” mama bertanya heran
“Itu tuh, yang ada di atas.”
Dengan takut-takut Shasa memandang ke langit-langit ruangan. Takut kalau yang dilihatnya adalah makhluk mengerikan. Dan.. benar saja! Di langit-langit ruangan ada banyak makhluk kecil bersayap berwarna hitam. Matanya yang kecil menatap tajam.

Shasa menarik nafas lega. Ternyata bau menyengat yang tercium adalah bau kotoran Kelelawar. Sesekali beberapa kelelawar itu terbang berpindah tempat bergantung.

Oalahh… ternyata cuma bau kelelawar. Hampir saja Shasa mengira kalau yang ia cium adalah bau parfum hantu.. hehehe..

Poem For A Best Friend

Dewi and Ana are best friends. They are in the same class in school. Most of the time their friends often find them playing, laughing and chatting together.

It has been several days, Ana seems quieter. If Dewi tell her some stories, she just listens without any comment. Her smile and laughter suddenly disappear.

“What’s wrong with you?” Dewi asks.

Ana stares at her best friend for a moment and says, “My father had been transferred to Surabaya by his office. So, we will move there by the end of this month.”

“What?” Dewi looks so shocked hearing the news.

“I’m sorry to tell you this,” Ana replies. She holds her best friend’s hand.

Dewi takes a deep breath but a minute later her face shows a smile.

“Hey, we still have around two weeks to be together, right? Let’s spend our time by doing things that could make us happy.”

Ana smiles. What a good idea! Sadness will only make the situation worse.

The next day, things are just fine between them. They play, talk, laugh and chat together. They try to spend the time left by doing things that could make them happy.

This Saturday, Ana’s family is holding the farewell party. Tomorrow, they will fly to Surabaya. Dewi feels so sad. Ana is a nice friend. She is so kind and cheerful. Now, she is going to lose her best friend but she believes that their friendship will last forever.

The party runs well. All their classmates come. Before enjoying lunch, the photographer takes their picture together. After that, Dewi stands among the crowd and present a poem.



**********

I shot an arrow into the air

It felt to earth, I knew not where

For so swiftly it flew, the sight

Could not follow it in its flight

I breathed a song into the air

It felt to earth I knew not where

For who has sight so keen and strong

That it can follow the flight of song?

Long.. long afterward, in an oak

I found the arrow, still unbroke

And the song, from the beginning to end

I found again in the heart of a friend

**********



All the audience gives their applause. Ana runs to her best friend and gives her a hug.

“Thank you. That is a really sweet poem,” she whispers.

All of Ana’s classmates come one by one. The boys shake her hand. The girls give her a warm hug.

“Don’t forget to send us letters,” Mutia says. “Tell us all your stories there.”

“I won’t forget,” Ana promises. Her eyes brimmed with tears.

“This is from all of us,” Dewi gives a box with a pink ribbon.

“Thank you,” Ana says. “I’ll keep it. You know, guys, the times we used to have together is one sweet part of my whole life journey.”

“Come visit us on your holiday. We’d be glad to see you again,” Dewi says.

Ana hugs Dewi again.

“We are still best friends, right?” She whispers.

“Of course. Best friends forever,” Dewi replies.

Friendship is a wonderful thing. Keep it and you’ll never be alone.

Tragedi Merica

Hari Minggu ini, Shasa akan membantu mama memasak. Kata mama, Shasa sudah cukup besar dan bisa berhati-hati dalam menggunakan pisau dapur. Menu yang akan dimasak adalah Sup Ceker kegemaran Shasa. Eh, sebenarnya bukan cuma Shasa yang suka Sup Ceker. Papa juga suka loh..

Berdua dengan mama, Shasa berbelanja keperluan membuat Sup Ceker ke tukang sayur yang mangkal diujung jalan. Ceker ayam, Kentang, Wortel, Kol, Buncis dan daun Seledri. Hmmm.. Shasa sudah tidak sabar ingin cepat-cepat memotong-motong sayuran.

Selesai sarapan, acara memasak pun dimulai. Mama mengajari Shasa cara menggunakan Peeler, pisau khusus untuk mengupas kulit sayuran yang tipis. Biasanya digunakan untuk mengupas Kentang dan Wortel. Sreett.. Sreett.. Dengan hati-hati, Shasa mulai mengupas Wortel. Setelah itu giliran Kentang yang dikupas. Selesai dikupas, wortel diiris dan kentang dipotong kecil berbentuk dadu.

Tok.. tok.. tok.. terdengar suara pisau beradu dengan talenan kayu yang digunakan sebagai alas untuk memotong Wortel dan Kentang. Selesai dipotong, keduanya diletakkan dalam wadah berisi air. Kata mama, kalau tidak direndam air, kentang yang sudah dipotong-potong akan berubah warna menjadi kecoklatan.

“Itu apa, Ma?” tanya Shasa. Tugasnya mengiris wortel dan memotong kentang sudah selesai.

“Ini namanya Jahe. Gunanya untuk menghilangkan bau amis Ceker Ayam. Nanti Jahe ini akan dimemarkan dan direbus bersama-sama dengan Ceker Aym,” jelas mama.

“Bumbu Sayur Sop itu apa saja sih, Ma?” tanya Shasa ingin tahu.

“Bumbunya sederhana saja. Hanya Bawang Putih dan Merica yang dihaluskan kemudian ditumis dan dimasukkan kedalam rebusan Ceker Ayam,” Mama menjelaskan.

“Aduh, Sha, Mama lupa membeli merica,” Mama berseru panik saat membuka tempat merica ternyata dalam keadaan kosong.

“Coba tolong lihat, tukang sayur di ujung jalan masih ada tidak?” pinta mama. Shasa bergegas ke luar rumah.

“Tukang sayurnya sudah tidak ada, Ma,” lapornya. “Tidak usah pakai merica deh, Ma.”

“Aduh, Sha, nanti gak enak dong sayur Sop-nya,” keluh Mama

“Beli di minimarket saja, Ma,” usul Shasa.

“Di minimarket biasanya hanya menjual merica halus. Dibanding dengan merica butiran, aromanya kurang. Tapi apa boleh buat..” Mama tampak berfikir sejenak. “Kalau begitu Shasa pergi ke minimarket bersama Papa membeli merica halus. Mama di rumah merebus ceker ayam. Bagaimana?”

“Oke deh,” Shasa langsung setuju. Dicarinya Papa yang dengan senang hati langsung bersedia mengantar dan menemani Shasa ke minimarket.

Tak lama kemudian Shasa sudah kembali tiba di rumah.

“Merica halus-nya tidak ada, Ma,” lapornya.

Mama mengerutkan kening.

“Benar tidak ada?” tanya mama memastikan.

“Benar,” Shasa mengangguk yakin. “Tuh, tanya saja papa kalau tidak percaya,” katanya lagi.
“Iya, tadi Papa lihat di rak tempat bumbu-bumbu tidak ada merica halus,” Papa mengiyakan.

Mama tampak berfiikir. “Coba Shasa ceritakan, yang ada di rak bumbu-bumbu itu apa saja?” tanya mama.

Shasa mengingat-ingat. “Disitu ada Garlic powder. Garlic itu Bawang Putih kan, Ma?” tanyanya.
Mama menganggukkan kepala. “Selain Garlic Powder ada apa lagi?” tanya mama dengan sabar.

“Ada ketumbar halus, garam halus, lada halus..”

Kata-kata Shasa terhenti manakala dilihatnya mama tersenyum lebar.

“Kenapa sih, Ma?” tanyanya bingung.

“Shasa sayang, lada itu nama lain dari merica,” jawab mama sambil sibuk menahan senyumnya supaya tidak semakin lebar.

Shasa berpandangan dengan papa.

“Sudah sana balik lagi ke minimarket,” kata mama. “Cepat ya, Ceker Ayam-nya sudah empuk nih,” mama melanjutkan kata-katanya.

Sambil menggaruk-garuk kepalanya

yang tidak gatal, Shasa mengekor di belakang papa yang segera beranjak dari dapur.

Lada sama dengan merica

“Mana Shasa tahu kalau lada dan merica itu sama,” gumam Shasa.

“Papa juga baru tahu,” Papa berkomentar.

Di dapur mama tidak bisa lagi menahan tawanya. Ha..ha..ha

Lukisan Anggrek

Sore berangsur petang di pantai Kuta.

“Santi, sudah petang, ayo kita kembali ke penginapan.” ajak Papa.

“Lihat, Tante Lusi sudah duluan ke mobil.” imbuh Mama di belakang Papa.

“Iya.., iya.., sebentar Pa… Santi mau cetak pasir sekali lagi. Boleh ya Pa..?” rengek Santi. “Pa! Papa!” teriak Santi ketika melihat Papa dan Mama menyusul Tante Lusi.

Sampai di penginapan, wajah Santi masih cemberut. Santi masih ingin berlama-lama di pantai. Tahun lalu Santi bermain pasir bersama Sinta, adik perempuannya. Namun kini Sinta telah meninggalkan Santi selamanya karena sakit keras.

“Besuk kita ke pasar Sukawati kan Pa. Mama mau beli beberapa lukisan.” Mama duduk di samping Papa yang tengah menonton TV.

“Lukisan Mama sudah banyak, mau ditaruh di mana lagi?” Tangan Papa sibuk memilih program TV.

“Di kamar Santi belum ada lukisan, ya kan Santi?” Mama menoleh ke arah Santi. “Di teras depan juga mau Mama taruh lukisan.” lanjut Mama setelah melihat Santi tak menjawab.

“Santi tidak butuh lukisan.” sahut Santi tiba-tiba, dan tanpa berkata-kata lagi, ia masuk kamar.

“Ada apa anak manis?” Tante Lusi menutup majalahnya. “Tadi udah janji loh, gak akan marahan lagi.., gak akan manja lagi. Ada apa sayang?” ulang Tante Lusi dengan hati-hati.

“Gak ada. Santi mau tidur!”

“Ooh…, cuma mau tidur, ya udah mau tidur sama Tante apa sama Mama?”

“Sama Tante!”

“Oke dech, selamat tidur. Mimpi bagus ya, jangan lupa berdoa. Udah pamit sama Mama Papa?”

Santi tak menjawab. Ia menelungkupkan badannya ke bawah bantal.

Pagi setelah sarapan, Santi dan keluarganya bersiap pergi ke pasar Sukawati. Tiba-tiba mobil kijang Papa mogok. Sambil menunggu mobil diperbaiki, Santi berjalan-jalan di sekitar penginapan bersama Tante Lusi. Di depan pintu gerbang penginapan, rupanya banyak pedagang berkerumun. Mereka langsung menyerbu ketika melihat Santi dan Tante Lusi.

“Ibuk, beli pathungnya Buk… Murah-murah saja, unthuk penglaris ya Buuk..”

“Beli sarung panthainya ya Buk. Ini warnanya manis-manis. Murah..”

“Baju barongnya Buk. Nih bagus-bagus. Ada baju panjang juga…”

Wah, semua pedagang menyodorkan barang dagangannya.

“Beli lukisannya yaa…?” celetuk bocah perempuan, seusia Santi.

“Ehm….” Santi hanya bergumam. Dicarinya Tante Lusi tapi sudah jauh di sana.

“Bagus-bagus. Boleh dilihat-lihat…” tangan kurusnya menyodorkan lukisan ke arah Santi. “Saya sendiri yang melukis.” tambah gadis kecil itu bangga.

“Oh ya?” Santi tak bisa menyembunyikan kekaguman pada lukisan yang dipegangnya.

Santi duduk di jok tengah dengan Tante Lusi. Mama duduk di depan menemani Papa. Mobil kijang telah sampai di pelabuhan gilimanuk. Semua turun dari mobil kemudian menuju ruang penumpang kapal. Santi memilih tempat duduk dekat jendela. Ia tatap sebuah pulau, makin lama makin jauh. Dan ketika kapal mulai menepi di pelabuhan ketapang, terasa susuatu yang hanyat di kedua matanya yang bulat.

Mobil terus melaju meninggalkan pelabuhan ketapang.

“Kok diam aja San, capek ya. Sebentar lagi sampai.” kata Papa ketika berhenti mengisi bahan bakar.

“Jam berapa sampai di Malang Pa?” Santi menguap menahan kantuk.

“Kira-kira jam lima sore nanti kita udah di rumah.” jawab Papa.

“Bener Pa?” Santi sudah tak sabar.

Dan, ketika mobil memasuki pekarangan, Santi langsung berlari ke dalam rumah. Di tangannya ada bungkusan kertas warna coklat. Santi melepas sepatu dan jaket merah mudanya. Setelah mencuci kaki dan tangan, ia mengunci kamarnya dari dalam.

Santi makin tak sabar membuka bungkusan. Ternyata sebuah surat dengan tulisan tangan.

Untuk sahabat baruku yang manis, Santi Diah Permata.

Santi, senang sekali berkenalan denganmu. Sayangnya kita hanya sebentar bertemu ya. Kamu harus segera pulang ke Malang. Saat kamu baca surat ini, mungkin aku masih berjualan. Dan lusa aku juga mulai masuk sekolah setelah libur panjang. Biasanya, pulang dari sekolah aku terus melukis.

Santi, sejak Bapak meningga,l aku rajin membantu Ibu. Ibuku…, kamu masih ingat seorang Ibu yang menjual baju barong? Dia itu ibuku, Santi. Ibu menjual baju barong milik orang lain. Nanti Ibu akan mendapatkan upah.

Santi, aku masih ingat, betapa kamu terkejut saat kubilang aku sendiri yang melukis ini. Iya Santi, dari kecil aku sudah pandai melukis. Bapak dulu seorang pelukis. Bapak juga yang mengajari aku melukis. Oh ya Santi, terimakasih sudah membeli lukisanku. Dan ini kuberikan lukisan bunga anggrek putih, sebagai tanda persahabatan kita. Tolong dibingkai sendiri yaa...

Selesai membaca surat ini, cepat balas ya. Aku tak sabar menunggu suratmu dan jangan lupa sertakan foto kamu beserta adikmu, almarhumah Sinta. Aku tak sabar ingin melihat fotonya, yang kamu bilang sangat mirip denganku.

Udah dulu ya Santi….

Sahabat barumu

(Putu Eka Cahyani)

Santi menghela nafas panjang. Tangannya melipat kertas dan pandangannya tertuju pada luar jendela. Ketika matanya menatap bunga putih di pot gantung, tiba-tiba ada sejuk dalam hatinya. Dan kini mata Santi nampak berkaca-kaca. Bunga anggrek putih di luar itu, sama cantiknya dengan lukisan di tangannya.

Bahkan sama bentuk bunga dan daunnya….

Lukisan Anggrek

Sore berangsur petang di pantai Kuta.

“Santi, sudah petang, ayo kita kembali ke penginapan.” ajak Papa.

“Lihat, Tante Lusi sudah duluan ke mobil.” imbuh Mama di belakang Papa.

“Iya.., iya.., sebentar Pa… Santi mau cetak pasir sekali lagi. Boleh ya Pa..?” rengek Santi. “Pa! Papa!” teriak Santi ketika melihat Papa dan Mama menyusul Tante Lusi.

Sampai di penginapan, wajah Santi masih cemberut. Santi masih ingin berlama-lama di pantai. Tahun lalu Santi bermain pasir bersama Sinta, adik perempuannya. Namun kini Sinta telah meninggalkan Santi selamanya karena sakit keras.

“Besuk kita ke pasar Sukawati kan Pa. Mama mau beli beberapa lukisan.” Mama duduk di samping Papa yang tengah menonton TV.

“Lukisan Mama sudah banyak, mau ditaruh di mana lagi?” Tangan Papa sibuk memilih program TV.

“Di kamar Santi belum ada lukisan, ya kan Santi?” Mama menoleh ke arah Santi. “Di teras depan juga mau Mama taruh lukisan.” lanjut Mama setelah melihat Santi tak menjawab.

“Santi tidak butuh lukisan.” sahut Santi tiba-tiba, dan tanpa berkata-kata lagi, ia masuk kamar.

“Ada apa anak manis?” Tante Lusi menutup majalahnya. “Tadi udah janji loh, gak akan marahan lagi.., gak akan manja lagi. Ada apa sayang?” ulang Tante Lusi dengan hati-hati.

“Gak ada. Santi mau tidur!”

“Ooh…, cuma mau tidur, ya udah mau tidur sama Tante apa sama Mama?”

“Sama Tante!”

“Oke dech, selamat tidur. Mimpi bagus ya, jangan lupa berdoa. Udah pamit sama Mama Papa?”

Santi tak menjawab. Ia menelungkupkan badannya ke bawah bantal.

Pagi setelah sarapan, Santi dan keluarganya bersiap pergi ke pasar Sukawati. Tiba-tiba mobil kijang Papa mogok. Sambil menunggu mobil diperbaiki, Santi berjalan-jalan di sekitar penginapan bersama Tante Lusi. Di depan pintu gerbang penginapan, rupanya banyak pedagang berkerumun. Mereka langsung menyerbu ketika melihat Santi dan Tante Lusi.

“Ibuk, beli pathungnya Buk… Murah-murah saja, unthuk penglaris ya Buuk..”

“Beli sarung panthainya ya Buk. Ini warnanya manis-manis. Murah..”

“Baju barongnya Buk. Nih bagus-bagus. Ada baju panjang juga…”

Wah, semua pedagang menyodorkan barang dagangannya.

“Beli lukisannya yaa…?” celetuk bocah perempuan, seusia Santi.

“Ehm….” Santi hanya bergumam. Dicarinya Tante Lusi tapi sudah jauh di sana.

“Bagus-bagus. Boleh dilihat-lihat…” tangan kurusnya menyodorkan lukisan ke arah Santi. “Saya sendiri yang melukis.” tambah gadis kecil itu bangga.

“Oh ya?” Santi tak bisa menyembunyikan kekaguman pada lukisan yang dipegangnya.

Santi duduk di jok tengah dengan Tante Lusi. Mama duduk di depan menemani Papa. Mobil kijang telah sampai di pelabuhan gilimanuk. Semua turun dari mobil kemudian menuju ruang penumpang kapal. Santi memilih tempat duduk dekat jendela. Ia tatap sebuah pulau, makin lama makin jauh. Dan ketika kapal mulai menepi di pelabuhan ketapang, terasa susuatu yang hanyat di kedua matanya yang bulat.

Mobil terus melaju meninggalkan pelabuhan ketapang.

“Kok diam aja San, capek ya. Sebentar lagi sampai.” kata Papa ketika berhenti mengisi bahan bakar.

“Jam berapa sampai di Malang Pa?” Santi menguap menahan kantuk.

“Kira-kira jam lima sore nanti kita udah di rumah.” jawab Papa.

“Bener Pa?” Santi sudah tak sabar.

Dan, ketika mobil memasuki pekarangan, Santi langsung berlari ke dalam rumah. Di tangannya ada bungkusan kertas warna coklat. Santi melepas sepatu dan jaket merah mudanya. Setelah mencuci kaki dan tangan, ia mengunci kamarnya dari dalam.

Santi makin tak sabar membuka bungkusan. Ternyata sebuah surat dengan tulisan tangan.

Untuk sahabat baruku yang manis, Santi Diah Permata.

Santi, senang sekali berkenalan denganmu. Sayangnya kita hanya sebentar bertemu ya. Kamu harus segera pulang ke Malang. Saat kamu baca surat ini, mungkin aku masih berjualan. Dan lusa aku juga mulai masuk sekolah setelah libur panjang. Biasanya, pulang dari sekolah aku terus melukis.

Santi, sejak Bapak meningga,l aku rajin membantu Ibu. Ibuku…, kamu masih ingat seorang Ibu yang menjual baju barong? Dia itu ibuku, Santi. Ibu menjual baju barong milik orang lain. Nanti Ibu akan mendapatkan upah.

Santi, aku masih ingat, betapa kamu terkejut saat kubilang aku sendiri yang melukis ini. Iya Santi, dari kecil aku sudah pandai melukis. Bapak dulu seorang pelukis. Bapak juga yang mengajari aku melukis. Oh ya Santi, terimakasih sudah membeli lukisanku. Dan ini kuberikan lukisan bunga anggrek putih, sebagai tanda persahabatan kita. Tolong dibingkai sendiri yaa...

Selesai membaca surat ini, cepat balas ya. Aku tak sabar menunggu suratmu dan jangan lupa sertakan foto kamu beserta adikmu, almarhumah Sinta. Aku tak sabar ingin melihat fotonya, yang kamu bilang sangat mirip denganku.

Udah dulu ya Santi….

Sahabat barumu

(Putu Eka Cahyani)

Santi menghela nafas panjang. Tangannya melipat kertas dan pandangannya tertuju pada luar jendela. Ketika matanya menatap bunga putih di pot gantung, tiba-tiba ada sejuk dalam hatinya. Dan kini mata Santi nampak berkaca-kaca. Bunga anggrek putih di luar itu, sama cantiknya dengan lukisan di tangannya.

Bahkan sama bentuk bunga dan daunnya….

Jangan Berlebihan Dalam Menghukum

Pada zaman dahulu ada seorang saleh yang selalu beribadah kepada Tuhannya. Pada suatu hari dia melakukan sebuah perjalanan atas ilham dari Tuhannya, karena perjalannya begitu jauh dan melelahkan maka diapun membawa serta beberapa orang temannya.

Ketika sampai di suatu tempat yang cukup terik orang saleh tersebut berkata kepada teman-temannya “Sekarang kita beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, sebelum kita melanjutkan perjalanan” katanya, “Tapi di mana kita akan berteduh sedangkan wilayah ini adalah padang pasir yang sangat panas” sela salah satu temannya. “Kalau begitu kita cari tempat yang teduh di sekitar sini” kata yang lainnya.

Setelah berjalan berputar-putar mencari tempat berteduh akhirnya mereka menemukan sebuah pohon besar yang cukup rindang, akhirnya mereka menuju pohon itu dan menurunkan semua perbekalan di bawahnya. Sebagian mereka ada yang menghamparkan karpet untuk sekadar bersandar pada batang pohon dan sebagian lainnya tidur-tiduran. Sementara laki-laki saleh ini bersandar pada batang pohon besar itu, semuanya merasakan rindangnya pohon, ditambah semilir angin yang membuat mereka mengantuk.

Namun tiba-tiba seekor semut menggigit orang saleh yang sedang bersandar, maka Semutdengan serta merta dia bangkit lalu membangunkan teman-temannya yang lain, “Kalian bangun semua, aku telah digigit seekor semut” katanya dengan nada tinggi. Lalu dia memerintahkan kepada teman-temannya untuk mengambil semua perbekalan mereka. “Sekarang ambil api dan kayu bakar, lalu bakar sarang semut yang berada di bawah pohon itu” perintahnya. Maka beberapa dari mereka segera mengambil ranting-ranting kering untuk membakar sarang semut tersebut.

Ketika nyala api sudah tersulut dan telah siap untuk dilemparkan ke sarang semut, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari langit “Wahai manusia kenapa engkau akan membakar seluruh semut itu, padahal yang menggigitmu hanya seekor” suara itu terdengar begitu dekat namun tidak ada satupun dari mereka yang melihat wujudnya.

Semuanya terdiam sementara suara itu telah hilang, “Hampir saja kita berbuat kesalahan besar” ucap orang saleh tersebut, “Sekarang bertaubatlah kepada Tuhan” lanjutnya. Maka orang saleh itu segera bersujud, sementara teman-teman yang lainnya mengikutinya. Rupanya suara itu adalah suara Tuhan yang telah menegur hambanya yang berlebihan dalam menghukum sesama makhluknya.

Kejujuran Jati

Jati mengusap peluh yang bercucuran di dahinya. Setelah satu jam lamanya ia berkeliling komplek perumahan untuk menawarkan barang dagangannya, ia berhasil mengumpulkan beberapa lembar rupiah. Sudah tiga hari ini, Jati berjuang keras untuk mengisi liburan sekolahnya dengan berjualan susu kedelai buatan ibunya. Ia berkeliling komplek perumahan yang tak jauh dari kampungnya. Ia belum akan kembali ke rumah sebelum semua dagangannya laku terjual.. sekilas terbayang raut muka memelas wajah Asih, adik satu-satunya.


Jati memang ingin mengumpulkan uang sekedar untuk membelikan obat adiknya, yang kini terbaring lemah tak berdaya. Hanya itu yang bisa dilakukan Jati, mengingat Ayahnya yang bekerja sebagai buruh serabutan tak mampu membawa Asih ke Dokter apalagi Rumah Sakit. Pernah suatu ketika Asih dibawa ke Rumah Sakit karena penyakit radang paru-paru yang dideritanya. Namun, belum sampai tuntas pengobatannya Asih harus segera dibawa pulang karena tak kuat menanggung biaya Rumah Sakit yang begitu mahalnya.


" Alhamdulillah, daganganku laris hari ini. Susu kedelai buatan Ibu memang luar biasa " Gumam Jati, setelah itu ia menghitung lembaran rupiah yang berhasil ia kumpulkan hari ini. " Dua puluh ribu, Yess! Itu artinya aku masih bisa menyisihkan uang untuk membeli obat buat Asih. Sabar ya dik, Aku akan senantiasa berdo'a dan berusaha untuk kesembuhanmu. Supaya kita bisa kembali bermain, belajar, mengaji abatatsa di Mushala, Ustadz Ahmad pun tentu sudah kangen dengan celotehmu yang lugu dan lucu "

Jati terus berjalan menyusuri komplek perumahan menuju rumahnya. " ini adalah hari yang menyenangkan bagiku, susu kedelai buatan ibu terjual habis. Sore nanti aku akan kembali berkeliling, menjajakan minuman kesehatan buatan ibuku tersayang. Dan siang ini aku masih bisa bermain layang-layang bersama Sufyan. Sungguh liburan yang paling menyenangkan "


Ditengah-tengah perjalanan menuju kampungnya, kaki Jati menyampar sebuah dompet. "Ups,.. dompet siapa ini?" tanya Jati keheranan. Dengan gemetar ia membuka isinya. "Masyaallah, uang??!!" Jati semakin terperanjat kaget karena bisa dipastikan ia tak pernah memegang atau memiliki uang sebanyak ini. Kepala Jati menoleh kanan dan kiri, tak ditemuinya seorang pun. Keringat panas dingin mendadak bercucuran dari dahi Jati. "ah... aku tak pernah memegang uang sebanyak ini" gumamnya. "lalu milik siapa ini?!". Buru-buru jati menyimpan dalam plastik hitam yang ia bawa. bergegas ia berlari menuju rumahnya hendak bercerita kepada Ibunya.

Di sepanjang perjalanan, Jati terus membayangkan seandainya ia punya uang sebanyak ini tentu ia dan keluarganya tak perlu bersusah payah bekerja demi kesembuhan Asih. Pikirannya berbisik, "Ambillah uang itu, toh tidak ada yang tahu kalau kamu menemukan uang itu. Tak usah dikembalikan kepada pemiliknya. Pasti ia orang kaya dan bisa dengan mudah mencari uang lagi. Sedangkan kamu, waktu liburan saja kau gunakan untuk berkeliling komplek perumahan demi selembar uang dua puluh ribuan. Ayo ambillah". Batin Jati terus bergejolak mendadak Jati segera beristighfar. "Astaghfirullah, mengapa aku memiliki pikiran sepicik ini. Bukankah uang ini bukan milikku, meski aku yang menemukannya dan tak seorangpun tahu ". semakin keras Jati ayunkan langkah menuju rumahnya.

"Assalamu'alaikum" ucap Jati ketika memasuki gubuk tuanya. "Wa'alaikum salam" jawab Ibunya. "Bu, Ibu, aku menemukan ini bu" ucap jati kepada Ibunya, yang tengah berdiri membukakan pintu. "Kenapa tho Le, koq teriak-teriak dan kamu terlihat pucat sekali" jawab Ibunya. "Aku menemukan dompet bu" ungkap Jati. "Dimana?" tanya Ibu dengan nada keheranan. "Di komplek perumahan sepulang aku berjualan bu, dan jumlahnya aku belum sempat menghitung tapi kupikir banyak sekali" Ibu terkejut mendangar cerita Jati. Dengan terengah-engah Jati melanjutkan ceritanya. "aku tidak tahu bu, dompet ini milik siapa. Dan aku belum sempat membuka seluruh isinya, aku takut bu di tengah-tengah seluruh keterbatasan kita, kita menjadi gelap mata dan ingin memiliki yang bukan hak kita. Maka aku bergegas kembali kerumah untuk bercerita kepada Ibu. Ini bu dompetnya." Jati memberikan bungkusan plastik hitam kepada ibunya.

Ibu sangat terkejut ketika melihat isinya. "Masyaallah, pasti yang punya merasa sangat kehilangan uang ini Le. Coba kamu lihat dan cari identitas atau tanda pengenal dalam dompet itu" sergah Ibu Jati. "baik bu" Jati menimpali. "Ini bu, ada KTP tertera nama dr.Heryawan SpOG alamatnya di Jl. Melati Blok C Nomer 5A Perum Limas. Pasti dompet ini miliknya bu" jawab Jati. "Baiklah mari kita segera kerumahnya, pasti dokter Heryawan sangat kehilangan".


Bergegas Ibu Jati mematikan kompor di dapurnya. "Air ini sudah mendidih dan nasi sudah tersedia kalau nanti bapakmu pulang dan kita tidak dirumah semua sudah terhidang. Ibu akan menitip pesan kepada Asih biar nanti ia menyampaikan kita sedang kerumah dokter Heryawan". Tukas Ibu Jati. Dengan sigap ia memberesi seluruh pekerjaan di dapurnya. "Tapi Bu," Ucap Jati. "kenapa? Apa yang kamu pikirkan Jati?" sergah Ibunya. "kita kan, bisa mengambil beberapa lembar saja dari uang itu, toh pemiliknya juga pasti dengan mudah akan mencarinya lagi, toh pasti ia orang kaya" dengan terbata Jati berucap.


"Istighfar Jati, Allah pasti akan marah jika kita melakukan hal ini. Ingatlah ini bukan milik kita, bukan hak kita, meskipun kita sangat membutuhkannya. Ayolah bergegas kita kerumah pemilik dompet ini, sebelum siang datang menjelang, karena ibu masih harus menyiapkan susu kedelai untuk kamu jual lagi sore ini" Ucap ibunya dengan nada tinggi.
"Astagfirullah, baiklah Bu" Jawab Jati dengan nada penuh sesal.

Jati dan ibunya berjalan menuju komplek perumahan Limas untuk mencari alamat dokter Heryawan. Bukan hal yang sulit bagi Jati dan Ibunya untuk menemukan rumah dokter Heryawan, toh hampir seluruh komplek perumahan ini sudah pernah dijajahi Jati.

"Ini pasti rumahnya bu, dr. Heryawan Jl. Melati Blok C Nomer 5A Perum Limas. Wah bagus sekali rumahnya, asri dan sangat bersih"

"Assalamu'alaikum" Ibu Jati mengucapkan salam. Tak lama kemudian dibukakanlah pintu dan datanglah seorang bapak berkacamata. "Wa'alaikum salam, ada yang bisa saya bantu bu, anda mencari siapa?" tanyanya. "Apakah ini benar rumah dokter Heryawan?" tanya Ibu Jati. "Betul Bu, saya dokter Heryawan, silahkan masuk dan silahkan duduk" jawab dokter Heryawan.
"Terimakasih" Jati dan Ibunya masuk kerumah dokter Heryawan. Mata jati tak henti hentinya memandang kesekeliling ruang tamu dokter Heryawan.

"Begini Pak, Anak saya, Jati pagi tadi ketika pulang dari berjualan menemukan dompet ini Pak, dan didalamnya ada identitas nama bapak dan sejumlah uang yang kami tidak membuka seluruh isinya" ucap ibu Jati memberikan penjelasan kepada dokter itu.
"Oh Iya, Alhamdulillah. Benar bu, saya kehilangan dompet pagi tadi. Isinya identitas saya dan beberapa surat-surat penting. Berarti Nak Jati ini yang menemukan" ungkap dokter Heryawan.
"Betul Pak, tak sengaja sepulang berjualan keliling komplek ini, kaki saya menyampar sesuatu ternyata dompet" ungkap Jati menjelaskan.

"Ini Pak, dompetnya" Ucap ibu Jati sambil menyerahkan bungkusan plastik hitam berisi dompet.
"Iya benar sekali, ini milik saya, Alhamdulillah masih rezeki saya. Isinya juga masih utuh. Terimakasih banyak ya, Nak Jati dan Ibu, berkat nak Jati dompet saya dan surat-surat penting itu masih utuh". ucap dokter Heryawan dengan nada syukur.
"Sebelumnya, saya boleh tahu Ibu rumahnya dimana? Dan nak Jati berjualan apa keliling komplek ini?" tanya dokter Heryawan.
"Saya sekeluarga tinggal di kampung sebelah pak, tidak jauh dari komplek perumahan ini. Dirumah saya membuat susu kedelai untuk dijual Jati di sekitar komplek ini". Jawab Ibu Jati

"Baiklah Pak, kami segera pamit" ucap ibu Jati.
"Tunggu sebentar bu" dokter Herywan masuk kedalam dan keluar dengan membawa bungkusan plastik berwarna hitam. "Ini ada sekedar oleh-oleh buat keluarga Ibu dirumah dan ini buat nak Jati" dokter Heryawan menyerahkan bungkusan platik hitam kepada Ibu dan menyerahkan amplop kepada Jati.
"Tak usah repot-repot Pak, ini sudah kewajiban kami" jawab Ibu Jati sambil berpamitan.
"Tidak apa-apa bu, sekedar ucapan terimakasih. Dan saya akan sangat senang jika ibu bersedia menerimanya. Jangan lupa sering-seringlah bertandang kerumah ini."
"Baiklah Pak, terimakasih kami akan segera berpamitan pulang" jawab Ibu
"Ya bu terimakasih kembali. Tapi sebentar bu, biar saya antarkan pulang" ucap dokter Heryawan.
"Tidak usah Pak, khawatir merepotkan saja. Sekali lagi terimakasih. Rumah kami tidak terlalu jauh koq. Assalamu'alaikum " bergegas Jati dan Ibunya berpamitan.

Disepanjang perjalanan Jati tak henti-hentinya bersyukur dan berucap terimakasih. Bukan karena lantaran amplop yang ia terima tadi. Tetapi ia lebih bersyukur karena dikaruniai sesosok ibu yang luar biasa. "Terimakasih ya Allah, engkau karuniakan aku seorang ibu yang baik, yang akan terus mendidik, membesarkan dan mengingatkanku ketika salah serta menuntunku dalam menjalani hidup ini" Gumam Jati penuh syukur.